|
|
|
|
ABUNAWAS GILA
Ayah Abunawas yang menjadi seorang hakim di Bagdad sedang sakit. Sudah tiga bulan ia menderita sakit. Sudah banyak dokter yang mencoba mengobatinya, tapi hasilnya, nihil. Suatu hari ia memanggil putranya, Abunawas.
"Abu, waktuku sudah hampir dekat," katanya. "Raja Harun akan menunjukmu menjadi penggantiku. Pikirkanlah! Bila kamu pikir kamu mampu jadi hakim, terimalah! Bila kamu tidak mampu tinggalkan saja."
Tidak lama setelah itu, ayah Abu wafat. Abunawas sangat sedih dan bingung. Dia sedih karena dia kehilangan ayahnya tercinta. Dia bingung karena dia tidak ingin menggantikan posisi ayahnya, tapi dia belum punya alasan yang bagus untuk menolaknya.
Suatu hari dia melihat anak-anak bermain kuda-kudaan yang terbuat dari pelepah daun pisang. Abunawas membuat satu dan bergabung dengan anak-anak itu. Kemudian dia lari-lari dengan penuh suka-cita. Akhirnya , mereka pergi ke Istana dengan kuda-kudaan mereka. Beberapa menteri melihat Abunawas berada bersama anak-anak itu. Mereka pikir bahwa Abunawas telah gila dikarenakan ayahnya baru meninggal. Kemudian menteri itu melaporkannya kepada raja. Raja tidak
percaya. Kemudian raja menyuruh seorang pengawalnya untuk memanggil Abunawas.
Ketika Abunawas tiba di gerbang Istana, seorang penjaga gerbang menghentikannya.
"Abu, dengar," kata penjaga itu. "Saya akan mengijinkan kamu masuk bila kamu mau berjanji,"
"Janji apa?" tanya Abunawas.
"Kamu harus berjanji memberikan separo apa yang akan diberikan oleh Raja kepadamu."
"Ok, tidak masalah," kata Abu. Penjaga pun mempersilahkan masuk Abunawas.
Ketika Abunawas tiba dihadapan raja dia membungkuk tapi tidak berkata apa-apa. Raja pun bertanya kepadanya.
"Abu, apakah kamu pingin jadi seorang hakim seperti ayahmu?"
Abu tidak menjawab. Raja mulai tidak sabar dan berkata keras sekali.
"Hei, Abu! Kamu dengar aku?"
Abunawas tak berkata sepatah kata pun. Malah dia berjoget. Raja sangat marah dan berpikir bahwa Abu telah gila. Raja menyuruh seorang pengawalnya untuk memukul Abu dengan tongkat rotan dua puluh kali. Abu kesakitan tapi dia mencoba menahannya.
"Sekarang, pergilah," kata raja. Abu kemudian pergi.
Ketika Abu tiba di pintu gerbang dia dicegat oleh penjaga gerbang.
"Abu, apa kamu lupa dengan perjanjian kita?"
"Perjanjian apa?" Tanya Abu lupa.
"Bila kamu diberi sesuatu oleh raja, kita akan bagi dua,"
Ingat perjanjian itu Abu langsung ambil sebatang kayu dan memukul penjaga itu sepuluh kali. Kemudian pulang.
Lalu penjaga itu melaporkan hal tersebut kepada raja. Raja sangat marah dan menyuruh Abu untuk datang ke istana lagi.
"Kenapa kamu pukul penjaga gerbang ini, Abu?" tanya raja.
"Tadi, sebelum hamba masuk pintu gerbang, dia menghentikan hamba dan membuat suatu perjanjian."
"Apa perjanjiannya, Abu?"
"Dia menginginkan hamba untuk membagi dua apa-apa yang Yang Mulia berikan kepada hamba. Dan tadi, Yang Mulia memberikan dua puluh pukulan kepada hamba. Jadi, hamba memberikan bagiannya sepuluh pukulan." jelas Abu.
"Benar begitu, penjaga?" tanya raja.
"Benar, Yang Mulia." jawab penjaga.
"Kalau begitu Abunawas benar."
ABUNAWAS MENJAHIT POT
Suatu hari sebuah gempa bumi mengguncang kota Baghdad. Akibatnya, sedikit dari bagian istana rusak, termasuk pot batu yang paling berharga yang dimiliki raja Harun. Pot tersebut pecah menjadi dua . Raja pun memanggil si cerdik Abunawas untuk menjahit pot tersebut supaya menyatu kembali.
"Menjahit pot, Yang Mulia?" kata Abunawas setibanya dihadapan raja.
"Ya!"
"Tapi Yang Mulia, apakah itu mungkin?"
"Saya tahu. Tapi kamu adalah orang yang paling cerdas di negara ini. Kamu pasti dapat melakukan hal tersebut!"
Abu kemudian meninggalkan istana dengan membawa pot batu yang pecah itu. Dia sangat bingung. Dalam perjalanan pulang dia istirahat dibawah pohon yang rindang, dekat sungai kecil. Sungainya bersih, airnya jernih. Abu dapat melihat batu-batu di dasar sungai itu. Tiba-tiba ia berjingkrak dan wajahnya sangat gembira.
"Gue dapet ide yang bagus nich!" teriaknya sendirian.
Abunawas kemudian datang ke istana lagi dengan membawa keranjang yang berisi pot batu yang pecah pada tangan kanannya. Dan membawa tas yang berisi penuh dengan batu-batu kecil pada tangan kirinya.
"Kamu bekerja cepat sekali, Abu," kata raja. "Apakah kamu telah menjahit pot batuku?"
"Belum, Yang Mulia. Sebelum hamba melakukan hal itu hamba akan bertanya kepada salah seorang menteri Yang Mulia."
Seorang menteri mendekati Abu untuk menjawab pertanyaannya.
"Tuan," Abu mulai, "tolong katakan kepadaku benda apa yang kamu butuhkan untuk menjahit pakaianmu yang sobek?"
"Benang, tentunya," jawab menteri itu.
"Dan benang terbuat dari apa?" Abu tanya lagi.
"Ya, kapas dong!"
"Baik, kemudian, semenjak Yang Mulia memerintahkan hamba untuk menjahit pot batu yang telah pecah, hamba membutuhkan beberapa benang yang terbuat dari batu." Setelah berkata begitu, Abunawas membuka tasnya dan mengeluarkan batu-batu kecil.
"Hei, buat apa batu-batu kecil ini?" tanya menteri itu.
"Hamba tidak dapat menjahit pot batu Yang mulia yang pecah, karena hamba tidak punya benang yang terbuat dari batu," kata Abu yang kemudian pergi dengan meninggalkan raja dan para menteri dalam kebingungan.
::>NEXT STORY>>ABUNAWAS MENJADI RAJA
bravenet.com